BERILAH NASEHAT YANG BAIK

BELAJARLAH DARI HARI KEMARIN, JALANI KEHIDUPAN DI HARI INI, BERHARAPLAH UNTUK HARI ESOK. YANG TERPENTING ADALAH, JANGAN BERHENTI UNTUK BERTANYA. NURJAYA.

BERILAH NASEHAT YANG BAIK

BELAJARLAH DARI HARI KEMARIN, JALANI KEHIDUPAN DI HARI INI, BERHARAPLAH UNTUK HARI ESOK. YANG TERPENTING ADALAH, JANGAN BERHENTI UNTUK BERTANYA. NURJAYA.

BERILAH NASEHAT YANG BAIK

BELAJARLAH DARI HARI KEMARIN, JALANI KEHIDUPAN DI HARI INI, BERHARAPLAH UNTUK HARI ESOK. YANG TERPENTING ADALAH, JANGAN BERHENTI UNTUK BERTANYA. NURJAYA.

BERILAH NASEHAT YANG BAIK

BELAJARLAH DARI HARI KEMARIN, JALANI KEHIDUPAN DI HARI INI, BERHARAPLAH UNTUK HARI ESOK. YANG TERPENTING ADALAH, JANGAN BERHENTI UNTUK BERTANYA. NURJAYA.

BERILAH NASEHAT YANG BAIK

BELAJARLAH DARI HARI KEMARIN, JALANI KEHIDUPAN DI HARI INI, BERHARAPLAH UNTUK HARI ESOK. YANG TERPENTING ADALAH, JANGAN BERHENTI UNTUK BERTANYA. NURJAYA.

Kamis, 31 Desember 2015

QUIZ ON LINE


Untuk mengetahui, kira-kira bila memang kamu memiliki kesempatan untuk mempunyai waktu alternatif, apa ya yang cocok dengan prestasi dirimu? Daripada mengira-ngira sendiri, lebih baik cari tahu, cara meraih prestasi alternatif apa yang cocok untuk kamu dengan menjawab quiz. Dalam kuis berikut ini disajikan siswa didik bisa berlatih untuk membiasakan mengatasi problem solving soal Ulangan UN, UAS, atau Formatif.

Kalian bisa langsung klik dan Sistem akan jalan langsung
Quiz di Blog ini bisa di accees dengan menggunakan PC Deskto atau Note Book melalui internet berikut ini :

ON LINE SD :

Sabtu, 19 September 2015

Matematika SD : Menentukan KPK dan FPB dengan mudah

Menentukan KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil) dan FPB (Faktor Persekutuan Besar) bagi anak usia sekolah dasar dapat dikatakan susah - susah gampang. Susah karena terkadang metode yang digunakan untuk mencari penyelesaian begitu rumit dan membingungkan.
Pada siswa kelas 4 SD, ada beberapa metode yang biasa digunakan dalam mencari FPB dan KPK.

Pertama,
Untuk menentukan KPK dari dua atau lebih bilangan kita dapat menggunakan metode mencari kelipatan, kelipatan persekutuan hingga di dapat KPK nya.
Contoh :
Tentukan KPK dari 4 dan 5 !

Jawab :
a. Kelipatan 4 = 4, 8, 12, 16, 20, 24, 28, 32, 36, 40, ...
    Kelipatan 5 = 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, 40, 45, 50, ...
b. Kelipatan Persekutuan
     (Mencari kelipatan yang sama dari dua bilangan yang akan di cari KPK nya)
    Kelipatan Persekutuan dari 4 dan 5 = 20, 40, ...
c. KPK dari 4 dan 5 = 20

Mau COBA UNTUK LATIHAN >>>>>>      disini       <<<<<<<<<<<<<<

Untuk menentukan
 FPB dari dua atau lebih bilangan kita dapat menggunakan metode mencari faktor dari masing - masing bilangan, faktor persektuan kemudian mencari FPB nya. Apa itu faktor bilangan ?, faktor bilangan adalah bilangan - bilangan yang dapat membagi habis bilangan yang diketahui.
Contoh :
Tentukan FPB dari 6 dan 9 !
a. Faktor dari 6 =  1, 2, 3 dan 6
    Faktor dari 9 = 1, 3, 9
b. Faktor Persekutuan dari 6 dan 9 = 1 dan 3
c. FPB dari 6 dan 9 = 3

Cara ini terlihat sangat mudah, namun untuk bilangan - bilangan yang besar sulit dilakukan karena akan memakan banyak waktu dalam menghitungnya.

Kedua,

Menggunakan faktorisasi prima, menggunakan pohon faktor. Nah, kesulitan menggunakan pohon faktor adalah siswa harus mengetahui bilangan - bilangan prima. Apa itu bilangan prima ? bilangan prima adalah bilangan yang dapat dibagi habis oleh 1 dan dirinya sendiri. Contoh bilangan prima adalah 2, 3, 5, 7, 11, 13, ....

Contoh mencari
 KPK dan FPB dengan pohon faktor.
Carilah KPK dan FPB dari 12 dan 36 !


Pohon Faktor

Berdasarkan faktorisasi prima menggunakan pohon faktor, di dapat :

Faktorisasi prima dari 12 = 
  22 x 3
Faktorisasi prima dari 36=
2x 32
KPK 12 dan 36 =
(Masukkan semua angka dari masing - masing faktorisasi prima, apabila terdapat angka yang sama masukkan salah satu dan carilah angka yang memiliki pangkat yang lebih besar)
 36  = 2x 32                                
FPB 12 dan 36 =
(Masukkan angka yang sama pada kedua faktorisasi dan carilah angka yang memiliki pangkat yang lebih kecil) 
12 = 22 x 3 

Ketiga,
Menggunakan metode tabel, menggunakan metode ini dengan mencari pembagi dari dua atau lebih bilangan yang akan dicari KPK dan FPB nya, sampai bilangan - bilangan tersebut tidak dapat dibagi lagi.
Contoh :
Carilah KPK dan FPB dari 12 dan 36 !

Tabel Faktor
dengan metode ini, kita membagi masing - masing bilangan dengan angka yangsama. Apabila tidak ada angka yang dapat membagi dua atau lebih bilangan yang akan dicari KPK dan FPB nya, maka di bagi dengan 1.

KPK dari 12 dan 36 adalah : 2 x 2 x 3 x 1 x 3 = 36 (perhatikan kotak berwarna merah)
FPB dari 12 dan 36 adalah : 2 x 2 x 3 = 12 
atau bisa dilihat di channel youtube berikut : KPKdanFPB
Nah, sekarang bagaimana mudah bukan ?
Selamat belajar matematika dan semoga bermanfaat

Contoh Soal Untuk Latihan >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>  Disini    <<<<<<<<<<<<

Minggu, 02 Agustus 2015

KATA KERJA OPERASIONAL (KKO) KURIKULUM 2013

Nah teman-teman selamat datang di blog supeksa, artikel ini akan membahas mengenai kata kerja operasional kognitif, afektif dan psikomotor. Sebelumnya kita bahas dulu pengertiannya
Upaya pengembangan fungsi koqnitif akan berdampak positif bukan hanya terhadap koqnitif sendiri, melainkan terhadap afektif dan psikomotor. Ada dua macam kecakapan koqnitif siswa yang perlu dikembangkan secara  khusu oleh guru yaitu:
Strategi belajar memahami isi materi pelajaran
Strategi menyakini arti penting isi materi pelajaran dan aplikasinya serta menyerap pesan-pesan moral yang terkandung didalam materi tersebut.
Strategi adalah prosedur mental yang berbentuk tatanan tahapan yang memerlukan upaya yang bersifat koqnitif dan selalu dipengaruhi oleh pilihan koqnitif atau kebiasaan belajar. Pilihan tersebut yaitu menghafal prinsip yang ada dalam materi dana mengaplikasikan prinsip-prinsip tersebut.
Ada dua prefensi koqnitif
Dorongan dari luar (motif ekstrinsik) yang mengakibatkan siswa menggarap belajar hanya sebagai alat pencegah ketidakstabilan atau ketidaknaikkan. Aspirasi yang dimilikinya bukan ingin menguasai materi secara mendalam tetapi hanya sekedar lulus  atau naik kelas semata
Dorongan dari dalam (motif Intrinsik), dalam arti siswa tertarik dan membutuhkan materi-materi yang disajikan gurunya.
Guru dituntut untuk mengembangkan dengan kecakapan koqnitif siswa dalam memecahkan masalah dengan pengetahuan yang dimilikinya dan keyakinan terhadap pesan moral yang terkandung dan menyatu dalam pengetahuan.
b. Kecakapan Afektif
Kebersihan pengembangan koqnitif tidak hanya membuahkan kecakapan koqnitif akan tetapi membuahkan kecakapan afektif. Pemahaman yang mendalam terhadap arti penting materi serta preferensi. Koqnitif mementingkan aplikasi prinsip atau meningkatkan kecakapan afektif para siswa. Peningkatan-peningkatan afektif ini antara lain, berupa kesadaran beragama yang mantap
c. Kecakapan psikomotor

Keberhasilan pengembangan koqnitif berdampak positif pada perkembangan psikomotor. Kecakapan psikomotor adalah segala amal jasmaniah yang konkrit dan mudah diamati baik kuantitasnya maupun kualitasnya. Kecakapan psikomotor merupakan manifestasi wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya
Ketiga aspek atau ranah kejiwaan itu erat sekali dan bahkan tidak mungkin dapat dilepaskan dari kegiatan atau proses evaluasi hasil belajar. Benjamin S. Bloom dan kawan-kawannya itu berpendapat bahwa pengelompokkan tujuan pendidikan itu harus senantiasa mengacu kepada tiga jenis domain (daerah binaan atau ranah) yang melekat pada diri peserta didik, yaitu:
a)    Ranah proses berfikir (cognitive domain)
b)    Ranah nilai atau sikap (affective domain)
c)    Ranah keterampilan (psychomotor domain)
CONTOH DAFTAR KATA KERJA RANAH KOGNITIF (Cl – C6)
Pengetahuan (Cl)
Pemahaman (C2)
Penerapan (C3)
Analisis (C4)
Sintesis (C5)
Penilaian (C6)
Mengutip
Memperkirakan
Menugaskan
Menganalisis
Mengabstraksi
Membandingkan
Menyebutkan
Menjelaskan
Mengurutkan
Mengaudit
Mengatur
Menyimpulkan
Menjelaskan
Mengkategorikan
Menentukan
Memecahkan
Menganimasi
Menilai
Menggambar
Mencirikan
Menerapkan
Menegaskan
Mengumpulkan
Mengarahkan
Membilang
Merinci
Menyesuaikan
Mendeteksi
Mengkategorikan
Mengkritik
Mengidentiflkasi
Mengasosiasikan
Mengkalkulasi
Mendiagnosis
Mengkode
Menimbang
Mendaftar
Membandingkan
Memodifikasi
Menyeleksi
Mengkombinasikan
Memutuskan
Menunjukkan
Menghitung
Mengklasifikasi
Memerinci
Menyusun
Memisahkan
Memberi label
Mengkontrasikan
Menghitung
Menominasikan
Mengarang
Memprediksi
Memberi indek
Mengubah
Membangun
Mendiagramkan
Membangun
Memperjelas
Memasangkan
Mempertahankan
Mengurutkan
Mengkorelasikan
Menanggulangi
Menugaskan
Menamai
Menguraikan
Membiasakan
Merasionalkan
Menghubungkan
Menafsirkan
Menandai
Menjalin
Mencegah
Menguji
Menciptakan
Mempertahankan
Membaca
Membedakan
Menentukan
Mencerahkan
Mengkreasikan
Memerinci
Menyadap
Mendiskusikan
Menggambarkan
Menjelajah
Mengoreksi
Mengukur
Menghafal
Menggali
Menggunakan
Membagankan
Merancang
Merangkum
Menim
Mencontohkan
Menilai
Menyimpulkan
Merencanakan
Membuktikan
Mencatat
Menerangkan
Melatih
Menemukan
Mendikte
Memvalidasi
Mengulang
Mengemukakan
Menggali
Menelaah
Meningkatkan
Mengetes
Mereproduksi
Mempolakan
Mengemukakan
Memaksimalkan
Memperjelas
Mendukung
Meninjau
Memperluas
Mengadaptasi
Memerintahkan
Memfasilitasi
Memilih
Memilih
Menyimpulkan
Menyelidiki
Mengedit
Membentuk
Memproyeksikan
Menyatakan
Meramalkan
Mengoperasikan
Mengaitkan
Merumuskan
Mempelajari
Merangkum
Mempersoalkan
Memilih
Menggeneralisasi
Mentabulasi
Menjabarkan
Mengkonsepkan
Mengukur
Menggabungkan
Memberi kode
Melaksanakan
Melatih
Memadukan
Menelusuri
Meramalkan
Mentransfer
Membatasi
Menulis
Memproduksi
Mereparasi
Memproses
Mengaitkan
Menampilkan
Mensuimulasikan
Menyiapkan
Memecahkan
Memproduksi
Mel.akukan
Merangkum
Mentabulasi
Merekonstruksi
Menyusun
Memproses
meramalkan
Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:
Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang paling rendah.
Salah satu contoh hasil belajar kognitif pada jenjang pengetahuan adalah dapat menghafal surat al-’Ashar, menerjemahkan dan menuliskannya secara baik dan benar, sebagai salah satu materi pelajaran kedisiplinan yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama Islam di sekolah.
Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi.  Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan.
Salah satu contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya: Peserta didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat menguraikan tentang makna kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-’Ashar secara lancar dan jelas.
Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat lebih tinggi ketimbang pemahaman.

Salah satu contoh hasil belajar kognitif jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi ketimbang jenjang aplikasi.

Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah, disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai bagian dari ajaran Islam.
Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah satu jasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah diajarkan oleh islam.
Penilaian/penghargaan/evaluasi (evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan patokan-patokan atau kriteria yang ada.
CONTOH DAFTAR KATA KERJA OPERASIONAL UNTUK RANAH AFEKTIF (A1-A5)
Menerima (Al)
Menanggapi (A2)
Menilai (A3)
Mengelola (A4)
Menghayati (A5)
Memilih
Menjawab
Mengasumsikan
Menganut
Mengubah prilaku
Mempertanyakan
Mem bantu
Meyakini
Mengubah
Berakhlak mulia
Mengikuti
Mengajukan
Melengkapi
Menata
Mempengaruhi
Memberi
Mengkompromikan
Meyakinkan
Mengklasifikasikan
Mendengarkan
Menganut
Menyenangi
Memperjelas
Mengkombinasikan
Mengkualifikasi
Mematuhi
Menyambut
Memprakarsai
Mempertahankan
Melayani
Meminati
Mendukung
Mengimani
Membangun
Menunjukkan
Mendukung
Mengundang
Membentuk pendapat
Membuktikan
Menyetujui
Menggabungkan
Memadukan
memecahkan
Menampilkan
Memperjelas
Mengelola
Melaporkan
Mengusulkan
Menegosiasi
Memilih
Menekankan
Merembuk
Mengatakan
Menyumbang
Memilah
Menolak
Menurut Krathwol (1964) klasifikasi tujuan domain afektif terbagi lima kategori :
a. Penerimaan (recerving)
Mengacu kepada kemampuan memperhatikan dan memberikan respon terhadap sitimulasi yang tepat. Penerimaan merupakan tingkat hasil belajar terendah dalam domain afektif.
b. Pemberian respon atau partisipasi (responding)
Satu tingkat di atas penerimaan. Dalam hal ini siswa menjadi terlibat secara afektif, menjadi peserta dan tertarik.
c. Penilaian atau penentuan sikap (valung)
Mengacu kepada nilai atau pentingnya kita menterikatkan diri pada objek atau kejadian tertentu dengan reaksi-reaksi seperti menerima, menolak atau tidak menghiraukan. Tujuan-tujuan tersebut dapat diklasifikasikan menjadi “sikap dan opresiasi”.
d. Organisasi (organization)
Mengacu kepada penyatuan nilai, sikap-sikap yang berbeda yang membuat lebih konsisten dapat menimbulkan konflik-konflik internal dan membentuk suatu sistem nilai internal, mencakup tingkah laku yang tercermin dalam suatu filsafat hidup.
e. Karakterisasi / pembentukan pola hidup (characterization by a value or value complex)
Mengacu kepada karakter dan daya hidup sesorang. Nilai-nilai sangat berkembang nilai teratur sehingga tingkah laku menjadi lebih konsisten dan lebih mudah diperkirakan. Tujuan dalam kategori ini ada hubungannya dengan keteraturan pribadi, sosial dan emosi jiwa
CONTOH KATA KERJA OPERASIONAL UNTUK RANAH PSIKOMOTOR (P1-P4)
PENIRUAN (PI)
MANIPULASI (P2)
KETETAPAN (P3)
ARTIKULASI (P4)
Mengaktifkan
Mengoreksi
Mengalihkan
Mengalihkan
Menyesuaikan
Mendemonstrasikan
Menggantikan
Mempertajam
Menggabungkan
Merancang
Memutar
Membentuk
Melamar
Memilah
Mengirim
Memadankan
Mengatur
Melatih
Memindahkan
Menggunakan
Mengumpulkan
Memperbaiki
Mendorong
Memulai
Menimbang
Mengidentifikasikan
Menarik
Menyetir
Memperkecil
Mengisi
Memproduksi
Menjelaskan
Membangun
Menempatkan
Mencampur
Menempel
Mengubah
Membuat
Mengoperasikan
Menskestsa
Membersihkan
Memanipulasi
Mengemas
Mendengarkan
Memposisikan
Mereparasi
Membungkus
Menimbang
Mengkonstruksi
Mencampur

Menurut Davc (1970) klasifikasi tujuan domain psikomotor terbagi lima kategori yaitu :
a. Peniruan
terjadi ketika siswa mengamati suatu gerakan. Mulai memberi respons serupa dengan yang diamati. Mengurangi koordinasi dan kontrol otot-otot saraf. Peniruan ini pada umumnya dalam bentuk global dan tidak sempurna.
b. Manipulasi
Menekankan perkembangan kemampuan mengikuti pengarahan, penampilan, gerakan-gerakan pilihan yang menetapkan suatu penampilan melalui latihan. Pada tingkat ini siswa menampilkan sesuatu menurut petunjuk-petunjuk tidak hanya meniru tingkah laku saja.
c. Ketetapan
memerlukan kecermatan, proporsi dan kepastian yang lebih tinggi dalam penampilan. Respon-respon lebih terkoreksi dan kesalahan-kesalahan dibatasi sampai pada tingkat minimum.
d. Artikulasi
Menekankan koordinasi suatu rangkaian gerakan dengan membuat urutan yang tepat dan mencapai yang diharapkan atau konsistensi internal di natara gerakan-gerakan yang berbeda.
e. Pengalamiahan
Menurut tingkah laku yang ditampilkan dengan paling sedikit mengeluarkan energi fisik maupun psikis. Gerakannya dilakukan secara rutin. Pengalamiahan merupakan tingkat kemampuan tertinggi dalam domain psikomotorik